"Gak usah panggil 'Miss' lagi dong."

Hai, apa kabar? 
Kembali lagi di tulisanku kali ini. Sebelumnya, aku memohon maaf karena aku tidak sempat menulis karena mengalami writer's block dan ada banyak saudara datang ke rumah di Idul Fitri tahun ini.

Kemudian, izinkan aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua bisa dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Aamiin.

Kini, kita kembali lagi ke tulisanku...

Meskipun banyak saudara datang, aku tetap menyempatkan diriku untuk menjalin silaturahim melalui social media yang aku punya, seperti Instagram, Twitter, dan WhatsApp.

Beberapa hari yang lalu, aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan salah satu muridku di tempat kerjaku yang lama. Aku tidak berani menyebutkan namanya karena aku tidak mau melanggar privasinya.

Anak ini ketika aku mengajarnya, meskipun online class, tidak pernah mau menampilkan wajahnya di kamera. Selalu ujung rambut dan matanya saja. Aku sih sebenarnya tidak masalah, asalkan dia hadir dan mendengarkan. Namun, hal ini kerap dipermasalahkan oleh guru lain kala itu. Aku selalu mengingatkannya untuk menampilkan wajahnya, namun aku melihat anak ini sudah sangat lelah sekali belajar. Maka dari itu aku tanyakan padanya:

"Dear boy, what is it? You look exhausted. Can you tell me what happened to you?

Lalu dijawabnya:

"I actually had an additional class before this class, Miss. Every Friday. I humbly apologize if I always come late to the class."

Iya, seperti itu alasannya, entah benar atau tidak, aku percaya saja karena jikalau ia berbohong juga, itu urusannya dengan Tuhan.

Sejujurnya, aku sangat merindukan momen-momenku bersama kelasnya, meski sebentar. Aku baru teringat juga kalau anak-anak ini memiliki kartu absen online yang setiap saat harus aku isi. Di kartu muridku tadi, aku mengingat kalau ia masih memakai foto masa kecilnya. Ia merupakan murid lama atau bahasa Jakselnya long stayer.

Di fotonya itu, terlihat jelas kalau rambut anak ini berbeda sendiri dari muridku yang lain. Rambutnya agak pirang, dan aku sempat mengira ibunya yang melakukan hair dye untuknya seperti ibu-ibu di zaman sekarang. Nyatanya, pikiranku itu dibantah oleh anak itu sendiri.

"Iya, Miss. Rambutku blondie, soalnya my Pa is a British man."

"Apakah sekolahmu mempermasalahkannya?"

"Tidak, Miss. Ini rambut asli, jadi mereka tidak masalah."

Aku kemudian mengatakan padanya kalau aku juga bukan 100% Indonesia. Ayah daripada kakekku (ayah dari ibuku) adalah seorang Portugis yang lama menetap di Manado. Muridku itu terkejut karena ia akhirnya tidak sendirian lagi, sambil berkata "Pantas saja Miss tidak terlihat seperti orang sini."

Dari situ lah aku mulai merasa dekat dengan anak yang hanya bisa bicara sepatah dua kata saja ketika di kelas ini. Aku juga bertanya alasannya mengapa sangat pasif ketika di kelas, selain karena lelah.

Jawabannya "Aku tidak pernah suka online class, Miss. Ribet dan there is no real interaction."

Baik, aku terima jawaban itu karena it makes so much sense. Aku juga merasa nyaman di kelas ini, namun tidak ada interaksi langsung dengan murid-muridku. Terkadang aku menginginkan agar bisa segera bertemu di kelas offline, namun apa daya aku tidak dipertahankan tempat itu.

Aku lebih menikmati hidupku sekarang sebagai seorang freelancer karena diriku sendiri adalah bossku. Aku yang mengawali, aku yang mengakhiri, dan aku juga yang membuat timeline pekerjaanku.

Cukup sedih memang, karena aku tidak bisa bertemu dengan mereka lagi. Akan tetapi, aku termasuk orang yang beruntung karena hidup di masa sekarang. Di mana social media sudah sangat marak dan bisa menjangkau yang jauh, jadi dekat.

Dari perbincanganku dengan muridku, aku mengetes muridku itu:

Teman sekelas muridku ini ada yang memanggilku dengan namaku saja, yakni 'Erika'. Sebut saja 'Si Gondrong'. Nah, selama beberapa sesi, tidak ada honorific 'Miss' untukku darinya. Entah karena ia bercanda atau memang kesal dengan cara mengajarku yang menurut pengakuan beberapa muridku memang kelewat asyik.

Dari situlah aku mengetest muridku ini untuk melakukan hal yang sama, karena aku juga merasa aku sudah tidak layak lagi dipanggil dengan honorific seperti itu.

Alasannya hanyalah aku sudah bukan menjadi guru yang bertanggungjawab untuk mengajar di kelasnya.

Namun, anak ini tetap bersikeras memanggilku demikian. Aku mengalah pada akhirnya, dan berpikir bahwa orang tua anak ini telah berhasil mendidiknya menjadi pria yang santun. Dengan panggilan seperti itu juga, aku merasa kalau meski aku tidak mengajarnya lagi, jasaku tidak akan dilupakan olehnya.

Aku ingat salah satu temanku juga berkata, "Kalau jadi guru B. Inggris itu, selamanya bakal dipanggil 'Miss' atau 'Mister', meski lu bersikeras maunya dipanggil dengan nama lu atau honorific lain." Aku pikir temanku itu ada benarnya.

Selama hidupku, aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang tenaga pengajar. Aku hanya berpikir dulu kalau aku bisa sukses menjadi seorang komikus atau mangaka, namun profesi seperti itu masih sedikit di Indonesia. Kemudian aku berpikir untuk menjadi pendidik pada tahun 2019, di mana tahun itu adalah tahun pertama aku diterima bekerja di sebuah bimbingan belajar khusus SD dan SMP di dekat kampusku. Di sana, aku berhasil mengantar beberapa muridku masuk ke SMA Negeri impiannya dan bahkan kini salah satu dari mereka menjadi mahasiswa baru di fakultas dan kampus yang sama denganku dulu. Bedanya hanya di program studi, di mana aku di program studi Inggris dan muridku di program studi Sinologi (Sastra & Bahasa Tionghoa).

18 April lalu, muridku menghubungiku hanya untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut.
Di tempat pertamaku bekerja, karena gap usia yang tidak cukup jauh, para murid memanggilku 'Kakak'. Namun di tempat kemarin, mereka semua memanggilku 'Miss'. Aku tidak keberatan sebenarnya jika memang mereka masih menganggapku guru, namun aku hanya merasa tidak pantas saja karena sudah tidak mengajar lagi dan aku rasanya ingin menghapus gap antara diriku sendiri dan mereka.

Mereka bukan cuma telah menjadi muridku, melainkan juga menjadi adik-adikku yang aku sangat pedulikan, baik dari segi kesehatan mental, maupun akademiknya.

Memang benar, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, maka dari itu aku berterimakasih kepada murid-muridku yang membaca blog ini dan kepada guru-guru lain yang telah menjadi mentorku selama ini, yakni Kak Hani, Kak Elis, Mr. A, dan Mr. R. Terima kasih banyak.

Meski tanpa tanda jasa, ilmu yang diberikan akan selalu dikenang dan menjadi penuntun sang murid menuju kesuksesan.

Kepada murid-muridku yang kini sudah atau hampir mencapai tujuannya, semangat terus untuk berjuang dan terima kasih sudah 'memanusiakan' diriku sebagai 'manusia' seutuhnya yang layak diapresiasi, bukan hanya dikuras tenaga dan sanitynya.

Insyallah sukses selalu bersama kalian, anak-anak baik.

- E

•••
My Dearest Students from Friday Class,
'Si Gondrong' and friends

Tell your parents that I'm sorry I cannot be the best teacher you could've had. I've tried as much as possible to do my best for the very few sessions we had together. Thank you for sharing the stories, the laughter, and everything together. 

My apologize for the sudden disappearance. I hope we can meet each other in real life. Thank you for making me feel loved and thank you for choosing me as your teacher.

I didn't choose you, but you chose me. Little did you know I was scared of teaching you during the first day but I tried not to be intimidated. Even though I was a bit disappointed that you didn't do the first task, it was okay for me. Once again, thank you for being such obedient and exciteful students of mine.

Komentar