Menjadi Guru, Suatu Profesi yang 'Noble'.

"Hep, lo nanti kalau dah lulus mau jadi apa kerjanya?"

"Translator lah. Gue miskin soalnya, dan gaji translator gede. Hahaha. Aamiin."

"Aamiin."
Itulah gurauan yang terlontar dari mulut saya dan Happy sembari menyantap santapan terakhir Ayam Asix Sambal Matah kami di bawah atap Balairung Universitas Indonesia. Iya, pada hari itu, di bulan Maret 2021, turun hujan deras. Padahal pada saat itu, kami datang ke UI bersama Theressa dan April untuk menghadiri photo session wisuda Kak Lulu. Agak canggung awalnya karena ada pacar Kak Lulu saat itu, Mas Arif. Tapi kata Happy, "Enjoy aja!"

Foto di atas adalah foto saya dan Happy yang diambil oleh Theressa ketika Kak Lulu dan Mas Arif belum datang ke TKP. Itu hanya baru kita berdua bersama Theressa dan April di lapangan Rotunda, Rektorat UI. Kala itu juga sudah mendung, tapi memang dasar hapenya Happy canggih, jadi enggak terlihat kalau mendung. 

Pada Maret 2021 itu juga saya, Happy, dan April sedang berjuang untuk menyelesaikan skripsi kami, sementara Theressa masih harus menyelesaikan hutang mata kuliahnya saat itu. Happy, yang bernama lengkap Party Happy Septiani itu, mengambil konsentrasi penerjemahan berita, sementara saya mengambil sastra anak dengan fokus ke relasi kuasa di dalam ruangan kelas yang memicu kekerasan simbolik dari guru ke murid. Well, memang agak berat, tapi saya lulus juga sih pada akhirnya, hahaha.

Happy memang lebih menyukai linguistik daripada sastra dan budaya, apalagi teori pengajaran, karena tidak jarang juga saya kedapatan Happy tengah tertidur atau hilang fokus saat jam kelas di antara tiga topik yang tidak disukainya itu.

Kalau saya pribadi sih sebenarnya suka mata kuliah apa saja, asal dosennya enak cara mengajarnya, tidak pelit nilai, dan tidak galak (hehehe), tapi saya lebih condong ke sastra dan teori pengajaran. 

Ngomong-ngomong, kami dulu kuliah di program studi Sastra Inggris, Universitas Indonesia dan diterima melalui jalur undangan SNMPTN. Ketika banyak anak yang menginginkan SNMPTN, saya dan Happy saat itu malah mengeluh. Saya bahkan mengutuk hasil SNMPTN saya.

Jujur, saya pribadi sebenarnya masuk ke prodi tersebut hanya karena Mama dan Oma saya memaksa. Padahal aslinya saya ingin masuk di antara Filsafat atau Sejarah karena saya sangat suka keduanya dan minder pada saat itu dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang belum sefasih sekarang.

Kalau Happy, singkat cerita darinya kalau ia tidak lolos di pilihan pertamanya, Ilmu Komunikasi FISIP UI, malah lolos di pilihan Sastra Inggris.

Berbagai macam drama kami lalui. Dari dosen yang tiba-tiba memanggil kami berdua karena kami dianggap low scorers sampai kenangan pertama di kampus saat PSA Mabim. Kala itu, Happy mengalami sakit pada kakinya, sehingga jalannya pincang, dan salah satu staff komisi disiplin menganggap Happy hanya mendramatisir saja. Sampai puncaknya di mana Mama Happy mengantar Happy sampai kampus dan memarahi komdis tersebut. Saya tidak bisa berhenti tertawa setiap kali Happy menceritakan cerita tersebut kepada saya, Theressa, dan April.

Bertahun-tahun berlalu, kami yang dianggap low scorers ini akhirnya bisa menulis skripsi kami dan lulus pada Juli 2021, meskipun IPK kami tidak terlalu besar.

Kini, kami telah memiliki hidup masing-masing. Happy kini bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Bekasi, dan saya hanya freelancer. Saya tidak ingin membandingkan-bandingkan, memang itu sudah rejeki Happy. Memang cukup plot twist kehidupan Happy tuh.

Tapi... Ada tapinya nih, hehe.

Sudah disebutkan di atas kalau Happy tidak ingin bekerja sebagai guru, melainkan sebagai penerjemah atau translator. Namun entah mengapa tiba-tiba Happy bekerja menjadi seorang guru. Sekali lagi, ini semua sudah dituliskan sejak kita masih ruh. Kalau di dalam Islam, sudah ada semua di Lauhl Mahfudz. Tinggal kitanya saja yang berusaha. Mungkin di Lauhl Mahfudz Happy tertulis di usianya yang 22 tahun sekarang, ia akan menjadi guru. Namun, kita enggak tahu kalau nanti akan bagaimana ke depannya. Mungkin Happy akan menjadi istri seorang Bupati atau jadi penerjemah profesional? Semoga, who knows.

Namun, namanya juga manusia ya, banyak keluh kesahnya. Tidak jarang juga saya dan Happy berkeluh kesah bersama seputar pekerjaan kami. Bedanya, Happy menangani begitu banyak anak, sementara saya hanya satu sampai dua orang karena les private.

Happy pernah berkata kalau orang tua murid itu maunya sekarang serba instan dan sempurna, alias guru dituntut harus mendidik ekstra agar anak-anak bisa cepat paham dan fasih materi, terutama ia mengajar bahasa Inggris yang di mana saat ini krusial sekali untuk melamar pekerjaan dan requirement beasiswa. Hmm... Menurut pendapat saya pribadi sih, enggak ada yang instan ya. Mie yang dicap instan aja harus dimasak dulu lima menit, hahaha. Semua itu ada prosesnya, trust the process. Pula, beberapa anak metode ajarnya harus berbeda-beda. Ada anak yang rely sekali ke visual, audio, atau bahkan visual-audio. Jadi harus ekstra sabar dan pelan-pelan, terutama kalau di kelas ada yang special needs atau disleksia.

Jadi guru itu sebenarnya menyenangkan. Kenapa? Karena juga kadang kita sebagai guru ketemu dengan murid yang jenius lalu dia seakan-akan nantangin kita dengan knowledge yang dia miliki. Saya sih kalau ada murid kayak begitu, seperti dulu pas saya part-time di LBB Gama Jogja Kukusan, saya malah tanya terus. Lumayan kan insight gratis, meski dalam batin juga jengkel. Selain itu juga, jadi guru itu seru karena bisa ketemu dengan anak-anak kecil atau yang lebih muda dari kita. Kitanya jadi enggak merasa tua dan umur udah jadi sekadar angka saja.

Tapi ya cukup miris kalau misal kita melihat potret guru dan pendidikan di Indonesia. Saya ingat, dan pasti pembaca juga ingat, kalau beberapa bulan lalu ada guru honorer yang menuntut gajinya yang tidak pernah dibayarkan. Bahkan sampai ada guru honorer yang dibayar Rp 30.000,00 dan tinggal di kandang kambing. Miris.

Kalau kata tulisan yang waktu itu saya baca di LinkedIn, guru itu adalah sebuah profesi yang melahirkan profesi lainnya. Sayangnya, di negara ini, profesi ini masih underappreciated dan orang-orang yang tidak mengerti betapa lelah dan stressnya jadi guru pasti sering underestimate dan bahkan menghina kalau guru kelihata mengajar tidak becus.

Apakah saya menyesal menjadi seorang guru? Tidak, tidak sama sekali. Saya menikmati setiap detik bersama murid saya, bahkan yang menyebalkan sekalipun. Salah satu murid saya bahkan mengirimkan pesan kepada saya melalui surel beberapa hari yang lalu...

Saya merasa dihargai, dimanusiakan, dan merasa terlihat ketika murid-murid saya bisa mencintai dan menerima saya. Seberapa menjengkelkannya mereka, sekarang saya sudah paham kalau yang mereka lakukan sampai memancing emosi itu dulu pernah saya lakukan saat saya masih berstatus murid.

Well...

Teruntuk para guru di luar sana, I consider this job as a 'noble' one. Kenapa? Seperti yang sudah dikatakan di atas, profesi ini melahirkan profesi lain. Dengan sabar dan tekun, para guru mengajarkan murid-muridnya agar bisa pintar dan bersiap menghadapi dunia yang enggak ada apa-apanya ini dibanding akhirat. Kalaupun mungkin takdir anda adalah untuk nenjadi seorang guru, saya ucapkan 'selamat'. Kenapa? Anda adalah manusia terpilih, terdidik untuk menghasilkan generasi selanjutnya yang cerdas. Memang benar underappreciated, but hang in there. Insyaallah jerih payah dan lelahmu menjadi amal jariyah dan pahala. Jasamu akan selalu dikenang, walau anda ialah seorang 'pahlawan tanpa tanda jasa'.

Untuk Happy,
Hang in there. Ingat, di UI, kita dididik buat jadi orang yang pantang menyerah. Jangan menyerah selagi itu menghasilkan kebaikan ya, Hep. Memang mungkin orang tua murid tidak mengerti, namun ingat kata-katamu sendiri. Satu murid menyukaimu dan terambil hatinya olehmu itu saja sudah cukup untuk membuat murid lain atau temannya untuk mencintaimu. The real judgement comes from the students, not their parents, your fellow teachers, or even the principals. If the kids love you, then continue your good work. Semangat ya. Ini tempaan pertama yang benar-benar real dibandingkan dengan dulu panggilan bertubi-tubi dari dosen mengenai nilai kita di kelas.

Akhir kata, jazakallah khairan (semoga Allah membalas semua kebaikanmu). Maaf apabila di tulisan ini saya membuat kata-kata yang salah. Sampai jumpa di tulisan yang lain. Sehat selalu.

- Erika

Komentar