Idola dan Motivasi: Sesuatu yang Saya Kira Enggak Bakal Sinkron

Lulus kuliah bulan Juli 2021, dan sudah beberapa lamaran saya lempar sana sini ke banyak perusahaan. Pada akhirnya, saya harus mengaku kalah dengan orang yang "koneksi"nya kuat. Banyak juga yang posting loker dengan embel-embel Fresh graduate are welcomed, tapi pada akhirnya yang dipilih tetap yang pengalaman dan sepak terjangnya lebih jelas daripada sekadar anak yang baru beberapa bulan lalu memakai toga dan dinyatakan bebas secara akademik.

Saya sebenarnya memiliki teman sepernasiban yang notabene adalah teman saya dari kecil. Iya, dari kecil, tepatnya dari kami berdua masih di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Ia baru saja menyelesaikan studi Hubungan Politik Internasionalnya di IISIP Jakarta, namun sudah mulai diterjang beberapa pertanyaan tentang kapan mulai bekerja, termasuk dari ibunya sendiri. Dari dulu kami memang saling curhat. Dari masalah seputar akademik, kehidupan, sampai percintaan. Namun, kebanyakan fokus kami sekarang tentang cari pekerjaan sih, hehehe, terutama tentang bagaimana harus keluar dari "lingkaran bokek" dan perasaan iri dengki dengan teman-teman lain yang sudah bekerja, bahkan daily routinitynya mirror selfie di toilet SCBD. Kalau boleh jujur sih, saya enggak pernah minat kerja di SCBD. Hal ini karena selain SCBD macet abis dan biaya hidup overpriced, saya ada alasan personal tersendiri. Mendengar keluh kesah teman saya itu yang ditanya-tanya ibunya kapan mulai bekerja, saya juga jadi ikut-ikutan sedih. Bahkan sampai menangis sekitar satu jam.

Saya memang orangnya sensitif. Istilah "Jaksel"nya sih katanya hyperly sensitive person atau baperan. Banyak juga yang bilang kalau "mungkin lo sebenarnya seorang empath, Ka?"

Seorang empath, mengutip dari tulisan Mas Bayu Galih Permana di SehatQ (2021), ialah orang yang memiliki empati yang sangat tinggi. Orang seperti ini sering kali ikut merasakan rasa sakit yang dialami orang lain, hingga agak cukup sulit untuk tidak memedulikan orang lain. Padahal sudah beberapa orang, termasuk mantan pacar saya sendiri, memaki saya, "LO JADI ORANG JANGAN TERLALU BAIK! SESEKALI HARUS BODOH AMAT SAMA ORANG! THE WORLD'S TOO CRUEL FOR THOSE WHO ARE KIND-HEARTED! THEY ONLY TAKE AN ADVANTAGE OF YOU!". Saya enggak pernah dengarkan, memang dasarnya stubborn bukan main, namun saya paham pada akhirnya. Akan tetapi, saat foto di bawah ini singgah di lini masa LinkedIn saya pada 7 April 2022 lalu...
Saya jadi berpikir, "Enggak ada alasan untuk tidak berbuat baik. Rasulullah saja orang baik, tapi pada masa awal kerasulannya sampai dilempari kotoran unta." Pula, selain karena kemauan dari diri sendiri, semua yang saya lakukan ini adalah wasiat terakhir dari alm. Opa saya untuk saya dan Mama saya, "Kiki (Mama saya), Diki (saya), jangan berhenti baik sama orang ya."

Mama saya dan saya memang menuruni kepribadian alm. Opa yang senang sekali berbagi dan berbuat baik ke sesama, meski beberapa kali orang yang dibantu menyebabkan malapetaka bagi kami. Oma bahkan menyindir keras, "Istilahnya itu kayak kamu lagi makan Indomie, terus ada orang belum makan, ya itu mie di mulutmu, kamu lepeh terus seluruh mangkuknya kamu kasih ke orang itu. Kamu kelaparan sendiri."

Iya, memang seperti itu kira-kira analoginya. Saya sekarang sudah lebih berhati-hati untuk berbuat baik karena memang banyak balasan tidak sewajarnya atau yang kadang-kadang membuat diri saya merasa enggak worthy

Well, balik lagi ke cerita teman saya. Malam kemarin (22/4/2022), ia bercerita kalau sudah tiga rejection letters dia terima, dan ia juga jadi jarang membuka ponselnya karena ketakutan dengan notifikasi WhatsApp dan surel. Memang dasar "teman sehidup semati" ya, saya pun juga bernasib sama. Saya balik bercerita kepada dirinya kalau di hari yang sama, saya mendapatkan dua rejection letters, yakni dari perusahaan webhosting ternama dan tempat kakak tingkat saya bekerja serta dari kampus saya sendiri untuk posisi magang.

Hang in there. We're in this together. Kata-kata itu selalu saya ucapkan tiap kali menyudahi percakapan dengan teman saya itu. Banyak orang berkata pada kami juga, "Sebenarnya Erika (saya) dan Errina (teman saya) itu cantik, gifted, dan pintar, tapi mereka enggak atau belum tahu potensi mereka itu di mana. Such a waste of potential."

Kesal? Kesal lah, tentu saja. Saya memang sedang mencari jati diri dan minat saya itu di mana. Sudah banyak sekali Digital Marketing course saya ikuti, akan tetapi hasilnya membuat saya merenung, "Ini bukan passion gue!" 

Saya paham betul kalau profesi marketing itu gajinya besar, tapi itu sudah sesuai dengan beban kerja atau jobdescnya bukan? Saya sih prefer pekerjaan gaji satu digit yang masih bisa mencukupi kebutuhan saya dan tidak overwhelm dengan jobdesc. Singkatnya, I seek balance between my personal life and my work.

Mengingat semua kegagalan saya pada hari kemarin, saya memutuskan pagi ini (23/4/2022) untuk menulis di blog berdebu milik saya ini. Blog yang sudah aja sejak 2020 ini tidak pernah saya isi apapun karena memang tugas kuliah dan skripsi saya memakan cukup waktu serta harus saya prioritaskan. Saya tidak mau menjadi mahasiswa legend penghuni abadi kampus soalnya. No offense.

Akhir-akhir ini, setiap kali saya menulis ide saya di buku atau apapun itu, saya sedang senang sekali mendengarkan lagu dari Dewa 19. Siapa sih yang enggak tahu dengan Dewa 19? Band legendaris ini merupakan salah satu band favorit Mama saya yang personelnya sekarang hanya terdiri dari Pakde Ahmad Dhani, Om Andra, Om Yuke Sampurna, dan Mas Agung "Drummer Gimbal" serta tanpa seorang vokalis tetap. Mungkin yang satu generasi sama Mama, anak-anak 80'an-2000an, paham lah ya seberapa boomingnya lagu-lagu Dewa 19, seperti Kangen, Dealova, Dewi, Kirana, dan lain sebagainya. Yang paling sering dinyanyikan Mama saya yang dulu berprofesi sebagai penyanyi kafe tersebut ialah "Kamulah Satu-satunya".

Laras hati
Berkelana iris janji
Menyulih bisikan
Bisikan memacu hasrat
Desir desir mimpi
Isyaratkan legit dunia

Kamulah satu satunya
Yang ternyata mengerti aku
Maafkan aku selama ini
Yang sedikit melupakanmu

Ya seperti itulah beberapa bagian dari liriknya yang saya hapalkan melalui Mama saya yang sering menyanyikannya, setiap saat dan kapanpun, di manapun. Saya memang enggak mendengarkan yang versi Ari Lasso seperti Mama saya, tapi saya mendengarkan versi remake dengan vokalis featuring, Bang Virzha.

Ngomong-ngomong soal Bang Virzha, saya ada sedikit cerita sih tentang si abang satu ini, haha.

Di tahun 2014, saya hanyalah siswi kelas 9 SMP biasa yang memiliki rutinitas seperti kebanyakan siswa kelas 9 SMP pada umumnya. Ya, betul, saya hanya menghabiskan waktu mengerjakan latihan soal UN dan tugas-tugas sekolah saya.

Di tahun 2014 itu juga, saya menemukan seorang idola baru. Saat anak-anak perempuan lain yang sebaya saya mengisi masa kecil dan masa remaja awalnya dengan lagu-lagu Justin Bieber atau Korean Boyband, saya mengisinya dengan alunan musik milik Bruno Mars dan abang ini ;)

Di Muhammad Devirzha atau yang lebih dikenal dengan "Virzha Idol" atau mononim "Virzha".

Saya ingat kala itu saya dikatain, "Ah ngapain sih lu suka sama artis Indo?" dan "Ah, kudet lu! Masa enggak tahu lagunya (nama salah satu Korean Boyband) yang ini?"

Saya enggak merasa istimewa atau istilahnya saya bukan Pick-Me Girl, tapi memang saya enggak ada minat sama sekali dengan yang orang suka. Istilahnya, saya jarang ikut arus mainstream. Orang kan punya hak untuk memilih atau tidak, bukan? Ya, saya memilih untuk mengagumi Bang Virzha. Baik itu karena karyanya atau karena memang physical appearance Bang Virzha yang beda sendiri kala itu dengan kontestan lain; rambut gondrong, tinggi, punya fashion style sendiri. DAN.... GANTENG TENTUNYA, HEHEHE. Saya mengidolakan bukan karena ganteng saja, tapi memang suaranya bagus. Kalau dibandingin sama kualitas vokal Om Once, memang tidak bisa, karena ada porsinya masing-masing. Tapi kehadiran Bang Virzha cukup membuat saya yang dulu malas dengan lagu Dewa 19, jadi kecanduan, hahaha.

Ingat sekali waktu audisi Indonesian Idol 2014 dulu, saya sedang menontonnya dengan Oma di kamar Oma. Televisi kala itu selalu ditaruh di kamar Oma karena memang merupakan satu-satunya hiburan Oma, sementara hiburan saya hanya laptop dan setumpuk novel. Ketika Bang Virzha masuk ke ruangan juri untuk audisi, Oma tiba-tiba menyeletuk, "Waduh umurnya 24 masih kerja freelance. Ngeband doang nih jangan-jangan?" Well, we never know kan? Hahaha. Semua celetukan tadi kemudian teralihkan ketika Bang Virzha mulai menyanyi, dan pada saat itu, Oma dan saya selalu tidak ingin ketinggalan Idol 2014 hanya untuk menontonnya beraksi. Kalau Oma sih sebenarnya punya dua jagoan. Jujur saya lupa Oma jagoin siapa lagi selain si abang di Idol 2014, entah antara Kak Nowella atau Bang Husein, dan saya cuma jagoin abang ini, hahaha. Ya, saya sampai rela ninggalin tugas saya yang deadlinenya besok pagi pas dipanggil "Dek, ini loh Virzha nyanyi." Masih ingat banget dengan jelas, dan kalau diingat-ingat itu lucu juga🤣 karena saya langsung loncat dari kasur saya dan terburu-buru menuju kamar Oma. Beberapa bulan kemudian, Bang Virzha akhirnya berhasil masuk Top 3, Alhamdulillah, tapi tidak menjuarai Idol. Sisi positifnya, ya sekarang beliau jadi vokalis featuring Dewa 19. Ya tapi saya suka beliau bukan karena ada di Dewa 19 aja sih, tapi karena unik aja gayanya. Terlebih, saya kaget pas rilis album pertamanya, wah kok lagu-lagunya "sadboy" semua, padahal tampilannya garang banget nih, hahaha. Wajar kok laki-laki bisa sedih. Namanya juga manusia yang punya perasaan kan, hehe.

Di usia 22 yang, Insyallah, sebentar lagi berganti jadi 23 pada Juni tanggal 25 mendatang, saya sudah mendapat banyak sekali nyinyiran tetangga, "Haduh lulusan UI, kok ditolak terus ya lamaran kerjanya? Tahu gitu enggak usah kuliah. Langsung nikah aja kamu, biar suami yang nafkahin. Kasihan Oma sama Mama sudah tua, takutnya maaf nih, mereka tiba-tiba meninggal." Dalam batin saya, kita enggak pernah tahu rezeki dan maut itu kapan datangnya. Semuanya sudah diatur. Agak kesal ketika tetangga saya berkata kalau beliau takut Oma dan Mama saya tiba-tiba meninggal, namun pikir saya mungkin yang berkata demikian itu nanti yang meninggal duluan. Kita enggak pernah tahu.

Iya, posisi saya sekarang hanya bekerja sebagai seorang freelancer dengan menjadi guru les privat anak dari juragan kontrakan yang saya dan Oma tempati. Upah kalau dibilang besar juga tidak, tapi cukup untuk saya jajan dan beli kuota internet. Di mata tetangga saya, saya kelihatannya diam saja tapi sebenarnya saya sibuk. Tawaran kerja singkat, seperti menerjemahkan dokumen dan membuat CV/Resume dari beberapa teman, yang selalu ada ini jauh lebih fleksibel, dan membuat waktu saya lebih banyak bersama keluarga, terutama dengan Oma yang memang dari kecil mengasuh saya. Hal ini karena Mama yang seorang single parent sejak usia saya masih tiga bulan itu harus bekerja sampai overseas working di Singapura.

Saya hampir menyerah dalam mencari pekerjaan, sampai saya teringat salah satu kawan karib saya di Twitter. Usia dirinya sudah lebih senior dari saya, namun sampai sekarang ia belum mendapat pekerjaan. Iya, saya tahu semua orang ada timelinenya masing-masing. Enggak pantas juga saya membandingkan diri saya dengan teman saya itu. Akan tetapi, kata-kata si "kakak" itu memotivasi saya, "Mungkin Allah masih titipin rejeki gue atau rejeki lu di orang tua kita masing-masing. Doain aja biar orang tua kita sehat selalu biar semangat kerjanya. Kita juga jangan nyerah nyari kerja." Kata-kata itu diakhiri dengan guyonan, "Berdoa aja juga semoga dapat suami tajir, hahahaha. Bercanda, but who knows kan?" Dari situ saya mulai agak sedikit lebih tenang.

Saya juga beberapa waktu lalu, saat Oktober 2021 tepatnya, ada mengobrol dengan teman kuliah saya, Heno yang kini sedang berusaha menyelesaikan studi S2nya di Ilmu Filologi. Ia sendiri belum bekerja, namun malah memberi wejangan agar saya tenang berupa kata-kata ini...

Beberapa kali ada beberapa teman yang menyuruh saya agar cepat bekerja karena Mama dan Oma semakin menua, persis seperti yang dikatakan tetangga saya, saya jadi overthinking sendiri. Kesimpulan yang saya ambil dari kata-kata kakak di Twitter dan kata-kata Heno, "Sabar dan banyak berdoa." Memang kalau seingat saya, di Al-Qur'an pun Allah SWT. banyak menyuruh kita untuk bersabar dan tetap berdoa diiringi usaha.

Daripada pusing mikirin omongan tetangga dan teman-teman budak korporat yang enggak ada habisnya, saya iseng menonton kembali video-video audisi Indonesian Idol di YouTube, termasuk ketika Bang Virzha audisi. Saya kaget pas liat informasinya, "Loh, lupa asli deh kalau umur Bang Virzha beneran 24 pas audisi? Status kerjanya freelance pula sama kayak gue."

Saya masih mengikuti Bang Virzha di social media saya (Instagram & Twitter), dan saya bisa katakan di usianya yang sudah menginjak kepala tiga sekarang ini adalah puncak karir beliau. Menjadi vokalis featuring Dewa 19, punya usaha F&B yang cukup sukses, berkecukupan, tawaran manggung dan kolaborasi di mana-mana, dan punya fanbase yang loyal. Dari situlah saya semakin yakin kalau semua orang ada waktunya. Berhenti membandingkan dirimu, berhenti jahat pada dirimu sendiri. Terserah orang lain mau kerja jadi CEO PT apapun atau punya rumah 10 di Podomoro Land di usia mereka yang baru 22-23, itu memang jalan hidupnya. Jalan hidup saya dan kalian yang membaca tulisan ini, Insyallah, lebih indah.

Kalau kata Adam Levine di lagu She will be loved sih,

It's not always rainbows and butterflies.

Jadi ya intinya memang harus "sabar".

Dari kehidupan Bang Virzha yang sekarang, semangat cari kerja saya ada lagi. Kadang saya berpikir, "Apa ikut Idol aja ya biar kayak Bang Virzha? Hahaha suara gue jelek kan tapinya."

Banyak yang bilang suara saya bagus, tapi hanya untuk lagu-lagu nada rendah. Kehadiran Bang Virzha sebagai vokalis featuring Dewa 19 membuat beberapa lagu Dewa 19, yang dulu dinyanyikan dengan nada tinggi oleh Om Once, jadi bisa saya nyanyikan dengan tone yang dinyanyikan Bang Virzha. Kalau kata Padus Maba UI sih, suara Bang Virzha ini bass, counterpartnya alto atau suara rendah perempuan. Jiakh, counterpart enggak tuh🤣 dan kebetulan suara saya waktu di Padus ada di alto, bukan sopran.

Dari cerita-cerita mengenai rasa kagum saya ke Bang Virzha, saya bisa menarik kesimpulan kalau Bang Virzha itu bukan orang yang saya sekadar kagumi belaka karena kualitas suara dan physical appearancenya saja, tapi karena usaha kerasnya jauh-jauh datang dari Banda Aceh untuk ikut audisi, entah diterima atau tidak.

Saya seketika teringat dengan kata-kata salah satu teman saya juga...

Kalau enggak nekat, enggak bakal bisa makan, kan? Hehehe.

Terlebih lagi, beberapa waktu lalu, Bang Virzha sempat membagikan momen bersama sang ibu saat hendak mengikuti audisi Idol berupa reels di Instagram pribadinya. Saya semakin percaya kalau kata-kata Heno tadi benar. Saya selama ini memang agak sedikit membangkang dengan Mama saya, dan saya malu terhadap diri saya sendiri yang melawan dan membohongi Mama saya. Restu rezeki saya ada di beliau, namun saya malah dengan kurang ajarnya membangkang hanya untuk kesenangan pribadi. Pikir saya karena masa muda cuma sekali, tapi pada akhirnya saya menyesal.

Ngomong-ngomong, saya dulu mikir kalau idola tuh ya sudah dikagumi saja karyanya, enggak perlu ada motivasi dari idola. Tetapi sekarang saya percaya kalau idola itu menginspirasi dan memotivasi, bukan hanya sekadar figur untuk dikagumi semata. Saya paham kalau idola utama seorang Muslim itu haruslah Rasulullah SAW., tapi tidak ada salahnya juga mengidolakan orang lain selain Baginda Rasul untuk tetap memotivasi diri.

Well...

Teruntuk Abang yang tidak pernah aku jumpai di kehidupan nyata, dan hanya bisa bertatap maya tanpa mengetahui rupa setiap kali Abang adain Instagram Live, terima kasih atas motivasinya, Abang. Sukses selalu. Harapku semoga kita bisa ketemu ya, Bang. Terima kasih telah menjadi idolaku selama ini. Teruslah menginspirasi dan memotivasi.

Teruntuk para jobseeker atau freelancer yang masih dihujat sana sini oleh tetangga atau bahkan teman kuliah sendiri, terima kasih sudah bertahan dan sabar sejauh ini. Perkencang lagi doanya dan ibadahnya. Tetap berusaha dan semangat. Insyallah dipermudah dan ada kabar baik di dalam waktu dekat. Aamiin☺️🙏🏻

Akhir kata, saya mau ninggalin dua foto di bawah ini. Salah satunya adalah kutipan dari buku Mbah Prescuk, Sujiwo Tejo.
Sehat selalu semuanya. Sampai jumpa di "keluh kesah" saya selanjutnya 😀 maaf kalau njelimet dan ada salah-salah kata. Sekian dan terima kasih.

- Erika

Komentar